Rabu, 19 Oktober 2011

film Bravveheart

 film Bravveheart



Brave Heart yang dibintangi aktor kawakan sekaligus sutradara Mel Gibson, merupakan sebuah film epik megah yang menunjukkan perjuangan rakyat Skotlandia pada abad 14 yang demi kemerdekaan menentang pemerintah Inggris.

Film bertema demikian mudah terjebak dalam kejenuhan, akan tetapi Mel Gibson dengan gaya seninya yang unik, berhasil membentuk figure seorang pahlawan nasional yang utuh, sentimental, berjiwa ksatria dan berperi-keadilan. Kegigihannya telah membuat film tersebut memperoleh beberapa penghargaan Oscar yang memiliki nilai seni tinggi.

Sesudah sang ayah dibunuh tentara Inggris beberapa tahun sebelumnya, Wallace balik ke kampung halaman, ia kemudian menikah diam-diam dengan gadis tetangga yang cantik bernama Helen serta melewatkan hari-hari yang tenang dan bahagia. Di atas tanah pegunungan Skotlandia yang memesona dan dengan latar belakang musik alunan alat musik khas bangsa Skotlandia yang terkesan lembut, indah dan syahdu, mengiringi dua orang muda-mudi menunggang seekor kuda berjalan dengan perlahan.

Namun pemandangan indah tersebut tidak berlangsung lama, suatu hari pasukan Inggris tiba-tiba menyerbu masuk halaman rumah mereka, menculik dan membunuh Helen yang bersumpah tidak mau menyerah.


Wallace memimpin pasukan Skotland bangkit berontak untuk membalas dendam kepada musuh. Proses perjuangan yang penuh derita, keberanian dan kecerdasan Wallace memperoleh respek dari orang-orang, bahkan utusan raja Inggris Edward, selir raja Isabel (Sophie Marceau) juga bertekuk-lutut oleh kejantanannya yang gagah perkasa dan bersedia membantunya secara diam-diam, bahkan cinta telah bersemi, dia mengatakan: "Aku mengagumi spirit kebanggaan di dalam sorot matamu".

"Setiap orang pasti mati, tetapi tidak setiap orang pernah benar-benar hidup." (Every man dies, not every man really lives.) Perkataan Wallace ini, telah menunjukkan sebuah pandangan hidup seorang pahlawan. Pasukan Inggris yang ia hadapi selain kuat, bahkan terbiasa menggunakan cara-cara keji, lagipula bangsawan Skotland sebagai pasukan persekutuan egois dan lemah.


Wallace selalu bertempur di garis paling depan dengan gagah berani, akhirnya karena tak kuasa melawan musuh yang lebih banyak, setelah terluka ia tertangkap pasukan Inggris. Raja Inggris Edward yang penyakitnya tak tertolong lagi tapi demi membuat jera lawannya, ia memutuskan menghukum mati Wallace. Namun ia masih berharap sebelum ajal mendengar Wallace memohon pengampunan.

Pemandangan eksekusi mati selamanya sangat brutal dan menakutkan, Mel Gibson di dalam penanganan shooting "brave heart" terkesan sangat canggih. Kereta tawanan mengangkut Wallace dengan kedua tangan terikat menuju arena kematian, para penonton yang berkerumun mendadak sunyi. Dua algojo kekar membawa Wallace ke podium pemancungan, pejabat pengawas eksekusi memamerkan kepadanya kapak dan golok yang memancarkan sinar kemilau dingin.

Mimik Wallace tenang. Kemerdekaan bangsa dan kebebasan rakyatnya adalah keyakinannya. Kini, detik-detik pengorbanan diri telah tiba. Sorot matanya tiba-tiba terfokus pada seorang anak perempuan berusia 4-5 tahun di bawah podium, wajahnya agak dekil dengan rambut awut-awutan.


Kematian diri sendiri, bukankah justru demi anak-anak ini dapat hidup dengan bahagia? Ia pernah mengatakan kepada kawan seperjuangan sebagai berikut: "Jika berperang, kalian mungkin bisa mati. Jika melarikan diri, minimal masih bisa¡K.hidup lebih lama sedikit. Tahun berlalu, hingga usia berakhir, relakah kalian? Begitu banyak hari-hari dimana hidup dengan menanggung hina, gantilah dengan sebuah peluang, hanya sebuah peluang saja. Kembali ke sini, katakan kepada musuh kita, barangkali mereka bisa merenggut nyawa kita, namun mereka selamanya tidak dapat merebut kebebasan kita (They may take our lives, but they’ll never take our freedom)"

Terdengar pejabat pengawas eksekusi membentak: "Asalkan kamu mengakui telah berkhianat kepada raja dan memohon kemurahan hatinya, maka bisa mengampunimu." Hati Wallace tak tergerak. Perintah diturunkan, seutas tali kasar dilingkarkan di lehernya, ia lalu diangkat ke atas, nyaris tercekik, tapi tak keluar sepatah katapun.

Tak lama kemudian, jeratan dilonggarkan, ia terbanting dengan keras di atas tanah. Lalu para algojo mengikat kedua ujung tangan dan kakinya serta ditarik ke arah berlawanan, kita samar-samar mendengar suara gemeretaknya tulang merekah. Mimik para penonton di seputar podium potong kepala beraneka ragam, dari sikap menonton keramaian pada awalnya berubah ke kengerian dan iba, merekapun terus menerus memohon untuknya: "Mohon pengampunan, mohon pengampunan!"

Kamera diubah arahnya: Nafas raja Inggris Edward sudah payah, ia berbaring di atas ranjang, dengan tatapan kosong menanti permohonan pengampunan dari Wallace. Sang selir Isabel memohonkan pengampunan kepada Wallace, sang raja dengan wajah bengis menolaknya. Si selir tahu sudah tak ada harapan, dia dengan air mata berlinang satu kata demi satu kata mengatakan kepada raja yang sedang sekarat tersebut: "Di perutku terkandung keturunannya dan anak ini akan menjadi raja masa mendatang."

Kamera dikembalikan ke sisi lain. Badan Wallace mengejang, tengkuk dan wajahnya dihajar sehingga penuh luka, ia masih saja bertahan. Pejabat pengawas hukuman kehilangan akal, ia memerintahkan para orang kekar mengikat empat anggota tubuh Wallace di atas podium pemotongan kepala. Mereka menggunakan pisau lengkung memotong bajunya dan dadanya.....massa penonton mengeluarkan suara terkejut dan ketakutan, kawan seperjuangannya yang berada di dalam kerumunan juga diam-diam memohon agar ia jangan lagi bertahan.

Ternyata, bibir Wallace bergetar seolah hendak bersuara. Pejabat pengawas hukuman menyambut dengan gembira, ia langsung memerintahkan anak buahnya untuk berhenti dan berupaya mendengar permohonan pengampunan Wallace. Pada adegan khusus itu terlihat: jakun Wallace bergerak-gerak, bibirnya bergetar, dengan mengandalkan kekuatan terakhirnya, ia berteriak dengan lantang: "Kebebasan (freedom)!" Energi teriakan tersebut seolah hendak menelan cakrawala langit, dengan dahsyatnya menggetarkan sanubari kita. Oh Tuhan, suara terkuat yang bisa dikeluarkan umat manusia, tak ada yang melebihi ini.

Di dalam teriakan menggelegar itu, Edward si raja sekarat menghembuskan nafas terakhir. Pejabat pengawas hukuman pupus tuntas harapannya, ia diam-diam menggelengkan kepala dan memberi tanda untuk action kepada sang algojo.

Selanjutnya adalah sebuah rekaman slow motion hasil karya sang master: kapak tajam yang berkilauan terayun melengkung di udara dengan perlahan, diiringi suara musik latar yang bergelora bercampur lembut nan indah, Wallace yang semula menadah ke langit menoleh ke arah kerumunan massa, sebuah bayangan yang dikenalnya berkelebat melewati massa, dengan entengnya berjalan menyongsong, ia dengan jelas melihat wajah tersenyum Helen sang istri.....kapak tajam menghunjam, sapu tangan di genggaman kuat Wallace terbang melayang-layang, itu adalah surat cinta sang istri.

Persis dengan Puisi Whitman: "Di tempat yang terdapat lelaki dan perempuan, para pahlawan senantiasa mengejar kebebasan."

Betul, kebebasan. Di dalam teriakan Wallace yang tak gentar oleh kematian, kita telah menyaksikan kebebasan. Teriakannya telah membangkitkan lebih banyak orang lagi untuk berjuang demi kebebasan.

Selamanya tidak ada kebebasan yang diberikan cuma-cuma oleh penguasa lalim, hanya melalui pengorbanan baru bisa meraih kebebasan. Pada masa berlainan, negara berbeda, musuh dari kebebasan kemungkinan ada 1000, padahal kebebasan hanyalah satu: Kebebasan Wallace dengan kebebasan Anda dan saya adalah sama. Sementara ada orang yang menyegelnya, membetotnya, merusaknya, menghinanya, mengucilkannya, namun siapapun tidak akan mampu mengubah sebuah realita: kebebasan ada di dalam dasar jiwa kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar