Selasa, 01 November 2011

IRON MAN

IRON MAN

Tony Stark, ilmuwan jenius nan playboy, sekaligus mega-bilyuner ternama pemilik Stark Industries mempublikasikan senjata pemusnah massal terbarunya untuk militer Amerika di gurun pasir Afghanistan. Usai melakukan itu, Tony dan rekan-rekan militernya diserang hancur-hancuran oleh teroris.


Tony tertawan dan pihak teroris meminta Tony membuatkan senjata pemusnah massal seperti proyeknya barusan. Tony terpaksa menurut dan dengan bantuan teman satu selnya, Yinsen merakit senjata lain yang akhirnya akan mereka gunakan untuk melarikan diri. Usaha mereka akhirnya berhasil meskipun dalam kontak senjata, Yinsen terluka parah dan sekarat. Sebelum meninggal, Yinsen berpesan supaya Tony tak menyia-nyiakan hidupnya. Tony pun berhasil kabur dengan senjata lempengan besi yang dia pakai untuk melindungi diri di tengah hujan api dan ledakan membahana yang melanda markas teroris. Tony diselamatkan militer Amerika di Afghanistan dan dibawa pulang ke negeri asal. Sesampainya di sana, Tony disambut bak pahlawan oleh semua orang termasuk wakil direktur Stark Industries, Obadiah Stane dan sekretaris pribadi Tony, Virginia ”Pepper” Potts.


Mengingat pesan terakhir almarhum Yinsen serta mengetahui konflik sekaligus konspirasi politik tersembunyi di balik dewan direktur Stark Industries, Tony memutuskan untuk membuat senjata pelindung pribadi yang jauh lebih canggih di rumahnya yang mewah, Stark Mansion, Malibu. Setelah itu konflik demi konflik terus melanda sampai akhirnya Tony dengan senjata pelindung pribadinya harus berhadapan dengan lawan yang tak dia sangka-sangka.

Dengan durasi 126 menit, film superhero adaptasi komik Marvel karya Stan Lee, Larry Lieber, Don Heck, dan Jack Kirby yang pertama kali terbit tahun 1963, ini sungguh berbeda. Alur cerita memikat sejak awal sampai akhir, penampilan gilang-gemilang aktor watak Robert Downey Jr, aksi efek visual spektakuler yang tidak berlebihan mendominasi cerita, serta eksplorasi kisah asal-usul superhero yang kurang populer ini (dibandingkan dengan Spider-Man dan X-Men misalnya), dengan sentuhan khusus untuk dewasa sehingga Iron Man seharusnya lebih pantas disaksikan orang dewasa dibandingkan anak-anak atau remaja. Sutradara Jon Favreau tampaknya sengaja meminimalisasi aksi dan mengganti nada filmnya menjadi sebuah thriller yang terjaga. Dari segi kualitas, Iron Man mungkin hampir mirip dua film X-Men pertama karya Bryan Singer, tapi Favreau berhasil memaksimalkan kelebihan Downey Jr tanpa mengurangi kualitas akting para aktor dan aktris pendukung dan memang Downey Jr betul-betul menjadi nyawa film ini. Selain durasi yang pas dan tak kepanjangan, Favreau tak mengumbar aksi gila-gilaan yang umumnya dilakukan oleh para sutradara lain dalam genre superhero ini dan efek visual film ini pun sangat pas, serta lancar menjaga cerita film tetap seimbang. Walaupun nampak sederhana, kurang glamor dan mungkin barangkali, kurang popcorn bagi yang menginginkan visualisasi aksi tanpa henti seperti film super laris robot penyamar tahun lalu, Iron Man harus tetap kita sebut sebagai film superhero terunik yang pernah ada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar